Ladang Orang Landak: Dari Padi Beralih ke Sawit
| Ladang orang Landak yang perlahan-lahan digantikan sawit. Dokpri. |
Oleh Masri Sareb Putra
Orang Dayak di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, punya cara bertani yang unik dan sudah turun-temurun. Mereka biasa membuka ladang di hutan atau bukit untuk menanam padi.
Menurut penelitian lama dari Jenkins dan Sacerdoti (1978), satu hektar ladang bisa menghasilkan sekitar 900 kg gabah padi. Tapi, ladang bukan hanya soal padi saja.
Baca Cornelis dan Ketahanan Pangan Berbasis Budaya Lokal di Landak
Di ladang orang Landak, selain padi, mereka juga tanam palawija seperti jagung, ubi, kacang, sayuran segar, bahkan jamur yang tumbuh alami. Ada juga pohon buah seperti durian atau nangka yang ditanam di pinggir sebagai tanda kepemilikan lahan. Semua dilakukan dengan gotong royong. Keluarga dan tetangga saling bantu membersihkan lahan, menanam, dan panen. Setelah panen, ladang dibiarkan istirahat (masa bera) beberapa tahun supaya tanah kembali subur.
Ladang ini punya sisi ritual dan budaya yang kuat. Sebelum membuka lahan, ada upacara adat untuk minta izin dari alam dan roh leluhur. Panen dirayakan dengan begawai atau pesta syukur. Ladang bukan semata-mata tempat cari makan, tapi bagian dari identitas, spiritualitas, dan kehidupan sosial masyarakat Dayak Landak. Mereka hidup harmonis dengan hutan, menjaga keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan keluarga.
Baca Masyarakat Dayak Kabupaten Landak Tolak Keras Satgas PKH: “Tanah Ulayat Leluhur Bukan Milik Negara”
Dulu, setiap keluarga mengelola lahan cukup luas, termasuk area yang sedang istirahat. Pola ini disebut ladang berpindah atau shifting cultivation. Hasilnya cukup untuk makan sehari-hari, meski uang tunai sedikit. Pendapatan utama dari menjual sedikit kelebihan padi atau hasil hutan seperti rotan dan madu.
Mengapa Banyak yang Beralih ke Sawit?
Sejak tahun 1980-an, pemerintah mulai dorong perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat, termasuk Kabupaten Landak, khususnya di Kecamatan Ngabang. Program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) membuat perusahaan besar bekerja sama dengan masyarakat lokal. Lahan ladang dan hutan adat banyak yang dikonversi menjadi kebun sawit.
Alasannya sederhana: uang. Ladang padi hanya menghasilkan Rp 8–12 juta per hektar per musim (termasuk semua hasil samping). Sementara kebun sawit bisa memberikan pendapatan tunai jauh lebih besar. Satu hektar sawit dewasa rata-rata menghasilkan 15–18 ton tandan buah segar (TBS) per tahun. Dengan harga TBS sekitar Rp 3.000 per kg, pendapatan gross bisa mencapai Rp 45 juta per hektar per tahun. Setelah dikurangi biaya pupuk, pestisida, dan tenaga kerja, petani masih bisa dapat bersih Rp 18–27 juta per tahun.
Banyak keluarga Dayak Landak tergiur karena sawit memberikan uang rutin setiap bulan. Pendapatan ini dipakai untuk biaya sekolah anak, kesehatan, dan kebutuhan modern. Di beberapa desa, sawit jadi andalan ekonomi. Bahkan, ada program replanting (tanam ulang) sawit rakyat yang dibantu pemerintah dengan dana hingga puluhan juta per keluarga.
Baca Cornelis turut Dorong Pemerataan Energi di Kalimantan Barat
Tapi, peralihan ini tidak selalu mulus. Ada konflik lahan karena tanah adat yang sudah turun-temurun tiba-tiba diklaim perusahaan. Beberapa perusahaan sawit di Landak bahkan gulung tikar karena perlawanan masyarakat. Meski begitu, gelombang sawit sulit dibendung. Lahan yang dulu untuk ladang padi dan karet kini banyak berubah jadi hamparan sawit hijau.
Keuntungan dan Kerugian yang Terasa
Secara ekonomi, sawit jelas menang. Petani yang beralih sering merasakan peningkatan pendapatan. Anak-anak bisa sekolah lebih lama, rumah lebih bagus, dan akses kesehatan membaik. Di Kabupaten Landak, sawit jadi salah satu unggulan daerah yang menyumbang pendapatan asli daerah.
Namun, ada sisi lain yang sering terlupakan. Ladang padi memberikan ketahanan pangan yang kuat. Keluarga bisa panen beragam makanan tanpa harus beli di pasar. Sawit hanya menghasilkan satu komoditas, sehingga petani harus beli beras dan sayur. Kalau harga sawit turun (seperti pernah terjadi), pendapatan langsung anjlok.
Dari sisi budaya, peralihan ini mengubah banyak hal. Gotong royong di ladang mulai berkurang karena kerja di kebun sawit lebih individual. Ritual adat dan hubungan spiritual dengan alam melemah. Hutan adat yang dulu dijaga kini jadi monokultur sawit. Keanekaragaman hayati berkurang, tanah lebih rentan erosi, dan air bisa tercemar pestisida.
Sosialnya pun berubah. Masyarakat lebih pragmatis dan fokus uang. Komunikasi antar keluarga kadang berkurang karena sibuk kebun. Ada yang bilang identitas Dayak sebagai peladang mulai pudar. Di sisi lain, pendidikan dan kesehatan memang naik, tapi marwah lembaga adat seperti adat istiadat dan hukum adat mulai longgar.
Lingkungan juga terdampak. Ladang berpindah sebenarnya ramah lingkungan karena tanah bisa pulih. Sawit yang permanen butuh input kimia banyak dan kadang menyebabkan lahan kritis kalau tidak dikelola baik.
Apakah Masih Ada Jalan Tengah?
Peralihan dari ladang padi ke sawit di Landak menunjukkan trade-off klasik: uang tunai lebih banyak, tapi kehilangan banyak nilai lain.
Sawit memang mengubah ekonomi masyarakat jadi lebih modern, tapi ladang punya keunggulan di ketahanan, budaya, dan lingkungan yang sulit diganti.
Banyak ahli bilang keduanya sebenarnya tidak bisa dibandingkan secara sederhana. Ladang adalah sistem kehidupan holistik, sementara sawit adalah bisnis komoditas. Fair-nya bukan memilih satu dan tinggalkan yang lain, tapi cari cara agar bisa berdampingan.
Beberapa solusi yang bisa dicoba:
- Tanam padi gogo atau palawija di sela-sela sawit muda (tumpang sari) saat replanting.
- Kembangkan agroforestry, gabungkan sawit dengan tanaman pangan dan pohon buah.
- Hormati lahan adat dan libatkan masyarakat dalam keputusan besar.
- Beri insentif untuk jasa lingkungan, misalnya bayaran kalau menjaga hutan adat.
Orang Landak sebenarnya pintar mengelola alam. Kalau pemerintah, perusahaan, dan masyarakat duduk bareng dengan semangat gotong royong seperti dulu, mungkin bisa dapat yang terbaik dari keduanya: pendapatan layak plus tetap menjaga budaya dan alam.
Baca Masyarakat Landak dan Sawit sebagai Penggerak Ekonomi
Di akhirnya, cerita ladang ke sawit di Landak adalah cerita perubahan zaman. Bukan hitam-putih, tapi pelajaran bahwa kemajuan ekonomi harus seimbang dengan akar budaya. Kalau tidak, yang hilang bukan hanya ladang, tapi juga jiwa sebuah masyarakat.